Investasi Alternatif: Solusi Aman di Masa Krisis

Ancaman Resesi Akibat Krisis Global

Saat ini AS mengalami gejolak pada sektor property dan finansial, hingga mengakibatkan bangkrutnya investment bank yang usianya dua abad yakni Lehman Brothers, serta ditutupnya Washington Mutual, bank komersial terbesar di AS. AIG bahkan perlu bailout untuk bertahan hidup. Kemudian, virus dari AS tersebar luas ke Inggris, Eropa, Jepang, bahkan termasuk Indonesia. Berbagai institusi finansial dunia mengalami masalah, mulai dari Northern Rock, Fortis, UBS, Bakrie & Brothers, dan lainnya.

Selain AS, negara-negara di dunia juga mengalami resesi dan kontraksi, seperti Inggris, Jerman, Italia, Pakistan, Singapura, dan lainnya. Indonesia bahkan kuartal kemarin dinyatakan kontraksi sebesar 3.6% dibandingkan kuartal sebelumnya, meskipun secara year on year masih tumbuh positif 6.1%.

Bursa saham global di seluruh dunia jatuh, sehingga bank sentral di seluruh dunia menstimulus lewat pemangkasan suku bunga global. Berbagai paket stimulus fiscal diluncurkan untuk mendorong perekonomian. Bursa Efek Indonesia juga tak luput dari guncangan bursa global, sehingga Rupiah melemah tajam. Sektor riil juga ikut terpukul, dan PHK semakin merebak.

Di masa krisis dan resesi ini, terjadi downward spiral, dimana konsumen yang memangkas pengeluarannya mengakibatkan permintaan menurun, sehingga perusahaan menurunkan produksinya, kemudian menyebabkan perusahaan harus melakukan PHK karyawan, sehingga daya beli konsumen semakin melemah, valuasi perusahaan semakin lemah, bursa global jatuh, dan demikian seterusnya.

Menurut para ahli, resesi bisa terjadi sekitar 2 tahun, sementara pemulihannya membutuhkan waktu 5 tahun. Sehingga, dilakukan berbagai langkah dari pemerintah dan bank sentral global dalam mengatasi resesi. AS, misalnya, melakukan penurunan suku bunga hingga mencapai Zero Interest Rate Parity, juga berbagai usaha penyelamatan mulai dari nasionalisasi, bailout, serta menjaga stabilitas sektor finansial. Kebijakan fiskal juga dikeluarkan, sehingga diharapkan bisa memulihkan perekonomian, seperti halnya yang terjadi pada Great Depression. Melalui pembangunan infrastruktur, maka diharapkan bisa terjadi efek multiplier dalam perekonomian.

Peluang Investasi di Tengah Krisis
Dalam mengatasi krisis ini, maka terdapat pilihan, yakni tidak melakukan apapun atau memangkas biaya. Namun Anda juga bisa tetap berinvestasi, yakni dengan membeli dengan harga rendah, peluang dari PER yang rendah, memperoleh peluang dari pemulihan yang terjadi, hingga mengambil untung dari dinamika pasar.

Financial Planning memungkinkan Anda mengembangkan cash flow demi mendukung kehidupan dan kesejahteraan (well-being). Financial Planning sendiri terdiri dari berbagai tahap, yakni Investment Planning, Insurance Planning, Personal Tax Planning, Retirement Planning, dan Estate Planning. Selama krisis, Anda seharusnya bisa melakukan salah satu tahap dalam Financial Planning, yakni Investment Planning, dimana terjadi Wealth Accumulation.

Oleh karena itu, untuk melakukan investment planning di masa krisis maka Anda butuh portfolio investasi yang tepat.

Portfolio Investasi yang Tepat
Investasi dapat menjadi solusi yang tepat dalam mengatasi krisis global. Namun pertanyaannya, kemanakah alternative investasi yang tepat? Tentu saja investasi yang aman dan stabil, serta dapat diandalkan di masa krisis. Alternatif lainnya yakni investasi yang mempunyai dua potensi keuntungan, baik ketika harga sedang naik maupun harga sedang turun. Ini sudah terbukti pada krisis-krisis sebelumnya.

Investasi ada dua macam, yakni traditional investment dan alternative investment. Yang termasuk traditional investment antara lain adalah saham, obligasi dan pasar uang. Sementara itu, alternative investment juga terbagi menjadi dua: tradisional yakni forex, futures, venture capital dan property; kemudian modern antara lain hedge funds, managed futures, dan koleksi seni.

Selama terjadi krisis, pelaku pasar mempunyai reaksi yang berbeda-beda, antara lain terjadi panic selling pada pasar modal, kembali memegang cash, kehilangan kepercayaan pada pasar modal, serta mencari investasi yang safe heaven, seperti emas dan US Dollar. Selain itu, marak terjadi pula unwinding carry trade dan anjloknya harga komoditas.

Akibatnya, maka terjadilah pergeseran dalam asset allocation selama krisis.
Pertama, dipilih investasi yang stabil atau anti krisis, seperti property atau emas.
Kedua, dipilih investasi alternatif untuk jangka pendek.
Ketiga, dipilih investasi yang punya peluang keuntungan dari dua arah, misalnya futures.
Keempat, orang memilih untuk memegang uang dalam bentuk kas.
Kelima,  pada bursa saham, investasi yang diusulkan adalah pada sector defensive dan mempunyai PER rendah.

Emas, misalnya, dalam kondisi krisis sekarang, sedang berada dalam trend bullish. Per tanggal Februari, harga emas sudah naik sebesar 14.4% dan berada di sekitar level 970 dollar per troy ons. Dalam tempo waktu sebulan belakangan ini emas sudah naik 1660 poin atau artinya 1660 x modal investor, seandainya investor menaruh dananya pada emas.

Emas juga merupakan investasi yang safe heaven, atau dipilih dalam kondisi risk aversion. Meskipun awalnya pergerakannya mengikuti minyak, namun ketika minyak turun lebih jauh oleh kekhawatiran outlook perekonomian global, emas justru semakin melesat.

Selain emas, trading forex (valuta asing) juga menjanjikan return yang tidak terbatas, dengan risiko yang terbatas. Forex juga punya peluang profit dari dua arah, sehingga bullish ataupun bearish tidak menjadi masalah. Contohnya, dalam kondisi Dollar yang terus menguat terhadap Euro, pair EUR/USD anjlok dari $1.4250 ke level $1.2600 hanya dalam tempo 2 bulan, atau 1650 poin, sehingga potensi keuntungan adalah 1650%. Contoh lainnya, yakni pair GBP/USD, yang juga merosot dari level $1.6672 ke level $1.3502 dalam kurun waktu 3 bulan, atau sama dengan 3170 poin, sehingga potensi keuntungannya adalah 3170%, jauh lebih besar dari EUR/USD tadi.

Stock index futures juga investasi yang menarik di tengah krisis. Indeks Nikkei, misalnya, anjlok dari level 13,440 ke 6,990 dalam waktu 3 bulan, atau 6,420 poin. Jika satu poin sama dengan Rp30,000 dan modal per lot adalah 8 juta, maka potensi laba yang dihasilkan dari modal 8 juta adalah 192.6 juta rupiah.

Menurut survei dari Merrill Lynch dan Capgemini tahun 2007, akan terjadi pergeseran alokasi investasi dari kelompok orang kaya, yang belakangan ini semakin agresif. Dari sebelumnya porsi banyak di fixed income, maka akan bergeser ke property, saham serta investasi alternatif lainnya.Sementara itu, menurut Vibiz Consulting, dengan adanya krisis pasar modal, maka alokasi pada saham akan semakin berkurang, dan proporsi yang lebih besar bergeser pada cash, property, serta investasi alternatif lainnya.

Prediksi Pergerakan Pasar

Perekonomian diperkirakan masih akan berada dalam tekanan krisis. Namun, krisis yang tadinya hanya pada sektor property dan finansial, kini juga berpengaruh ke sektor otomotif hingga sektor riil, sehingga terjadi pergeseran dari krisis finansial ke krisis ekonomi.

Sementara itu, trend dollar yang saat ini menikmati status safe heaven mungkin akan berakhir. Kucuran stimulus yang butuh triliunan dollar tentunya akan semakin meningkatkan defisit yang dialami AS, sehingga dampaknya juga akan buruk bagi dollar.

Dampak dari stimulus yang dikucurkan oleh pemerintah AS setidaknya baru dapat dirasakan pada akhir tahun 2009, atau sekitar 2010. Minyak juga berpotensi untuk rebound dari level saat ini, seiring dengan pemulihan ekonomi. Carry trade juga tentunya akan kembali marak di pasar.

Alfred Pakasi – Managing Partner Vibiz Consulting
(Vibiznews – Economy)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: